Donat Jadi penyelamat Pengungsi Kamboja
![]() |
| Ted Ngoy |
Adalah Ted
Ngow seorang Tionghoa yang dilahirkan dari keluarga miskin yang mana sudah
ditinggal bapaknya usia 5 tahun. Sang Mama tidak bisa bahasa Kamboja karena
memang asal Tiongkok harus pontang panting bekerja menjadi penyelundup
kecil-kecilan (beli barang dari Thailand dan jual di Kamboja) demi menghidupi
anak-anaknya.
Ted
dilahirkan tahun 1941 di Sisiphon, Kamboja. Sudah sejak kecil disuguhi
kehidupan yang keras yang membuatnya harus mandiri. Meski demikian, Sang mama
tidak ingin anaknya tidak mengenyam pendidikan. Kerja keras Mama Ted menginsipirasi
anak-anaknya menjadi pekerja keras dan pantang menyerah.
Saat
menjelang dewasa Ted pergi Ke Phnom Penh untuk melanjutkan pendidikan di
sekolah terbaik dan sekaligus mencari pekerjaan. Di Phnom Penh mendapat jodoh
anak seorang pejabat tinggi yang kemudian mendukung karier Ted. Ted masuk
tentara hingga mendapat pangkat mayor dan menjadi atase militer Kamboja di
Thailand karena Ted mampu menguasai 4 bahasa asing.
Saat
Kamboja jatuh ke tangan Khmer Merah pada April 1975, Ted harus mengungsi ke
Amerika bersama 50.000 pengungsi kamboja lainya yang ditempatkan di Camp
Padleton, California. Ted Saat itu sudah memiliki 3 orang anak. Saat mengungsi
dia juga membawa 3 orang keponakan.
Untuk
keluarga bisa keluar dari kamp maka dia harus mempunyai sponsor yang menyediakan
pekerjaan dan tempat tinggal. Beberapa minggu kemudian dia diterima kerja
menjadi cleaning service di sebuah gereja. Untuk menambah pengahasilan Ted juga
bekerja sebagai sales dan malam hari hingga subuh kerja di SPBU. Di seberang
SPBU, Ted melihat toko Donat yang selalu ramai pengunjung. Aroma Donat
mengingatkan Ted, akan kue yang sama di Kamboja yang bernama Nom Kong.
Ted
bertanya pada wanita yang bekerja disana berapa biaya yang dibutuhkan untuk
memiliki toko itu. Kemudian wanita itu menjawab jika ingin belajar tentang
donut, bisa mengikuti pelatihan yang diadakan Winchell donut. Kemudian Ted
mendaftar dan mengikut pelatihan yang ditawarkan. Materi pelatihan yang
diajarkan mulai dari membuat donat hingga management toko donat.
Setelah
tamat dari pelatihan, Ted diberi kepercayaan untuk konter donat di sebuah
tempat wisata. Istri Ted, Christy, yang menjadi penjaga konter sedangkan Ted
menjadi pembuat donat. Seluruh anggota keluarga keras selama 12-17 jam sehari
karena toko buka 24 jam. Ted meski memiliki pekerjaan lain tetapi harus membuat
adonan dan memanggang donat setiap hari sehingga dia sering kali tidur di
konter.
Setelah bekerja
keras selama setahun mampu membeli toko donut kedua meski harus ditunjang
dengan hutang dari kawan-kawanya dan kemudian tahun ketiga mereka memiliki 5
gerai dan seterusnya. The power of kepepet mendorong Ted dan keluarganya
bekerja keras siang malam sehingga pada tahun 1979 mereka sudah memiliki 50 gerai
donat dimana semua pekerjanya adalah pengungsi Kamboja.
Donat
memang sudah menjadi makanan populer dimana bagi orang Amerika lazim sarapan
pagi dengan 2 buah donat dan segelas kopi. Donat sudah menjadi makanan sejuta
umat yang bisa dikonsumsi kapan saja dan dimana saja. Selain donat bisa disantap
siapa saja, mulai dari orang yang sedang diet hingga kaum vegan bahkan binaragawan
yang sedang menaikan berat badan. Ted dengan naluri bisnis yang briliant
memanfaatkan kesempatan ini untuk membuka gerai donat selama 24 jam tanpa libur.
Bagi pengungsi
Kamboja mendapat pekerjaan adalah anugrah yang tidak akan disia-siakan karena
mereka tidak punya pilihan lain untuk bekerja. Generasi pertama pengungsi
kamboja adalah orang baru pertama kali keluar negara dimana mereka tidak bisa
berbahasa Inggris dan menghadapi kendala budaya. The Power of Kepepet membuat
mereka mau bekerja keras tanpa mengeluh. Setiap konter donat Ted setidaknya
dikelola satu keluarga Kamboja yang bekerja bergantian secara nonstop.
Ted juga
membuka kesempatan kepada para anak buahnya untuk bisa memiliki toko donat yang
mereka kelola dengan cara mencicil. Selain itu saat rezim Polpot jatuh pada
tahun 1979, Ted mensponsori lebih dari 100 keluarga Kamboja ke Amerika. Ted
yang saat itu sudah menjadi jutawan memberikan mereka tempat tinggal dan
pekerjaan. American Dream sudah dicapai Ted dan Keluarga. Ted dijuluki King
Donut dengan penghasilan bersih $100.000 perbulan. Rumah mewah dan harta
melimpah dimiliki Ted.
Pengungsi
Kamboja adalah komunitas yang paling sedikit terlibat kriminalitas dibanding
komunitas yang lain, sebagian karena Ted yang memberi mereka kesibukan sehingga
mereka tidak pernah memiliki waktu untuk berpikir jahat karena terfokus pada mencari
duit sepanjang hari. Ted juga terlibat dalam politik sebagai bentuk terima kasih
kepada Amerika yang telah menerima sebagai warga negara.
Tapi karena
kecanduan judi di Las Vegas, Ted mengalami kebangkrutan satu demi satu gerai
donut yang dimiliki dilego. Ted jatuh miskin dan keluarganya berantakan. Dia
diceraikan istrinya dah sempat hidup terlunta-lunta sebagai gelandangan.
Ted
kemudian bangkit kembali dan kini menjadi pengusaha properti di Kamboja dengan
keluarga baru. Meski bukan pengusaha donat lagi tetapi legasi Ted sangat terasa
di donat, kini terdapat lima ribu gerai donat independen yang dimiliki orang
Kamboja yang tersebar di seluruh Amerika, terutama California sehingga mereka
tetap menghargai Ted sebagai King Of Donut.


Komentar
Posting Komentar